Kehidupan Orang Kristen Sejati (1 Tesalonika 1:2-10)

I.  Pendahuluan  

Agama Kristen merupakan agama terbesar atau yang paling banyak dianut oleh penduduk dunia. Salah satu sumber menjelaskan bahwa persentase pemeluk agama Kristen di dunia adalah 33 % masyarakat dunia dengan sekitar 38.000 denominasi Kristen (baca: http://id.wikipedia.org/wiki/Kristen_menurut_negara). Hal ini menunjukkan bahwa begitu banyak masyarakat dunia yang sudah mengakui atau menyebut dirinya sebagai Kristen atau pengikut Kristus.

Namun, pada kenyataannya tidak dapat dipungkiri bahwa dari 33 % masyarakat dunia yang menyebut dirinya Kristen masih terdapat sekian persen yang tidak mencerminkan kehidupan seorang Kristen sejati. Hal ini terjadi karena pengenalan yang dangkal akan iman Kristen. Kekristenan dianggap sebagai suatu tradisi turun temurun dari orang tua atau nenek moyang.

Oleh karena itu, melalui firman Tuhan dalam 1 Tesalonika 1:2-10 ini kita akan belajar bagaimana sebenarnya kehidupan orang Kristen sejati.

 

II.  Isi

Surat 1 Tesalonika merupakan surat yang ditulis oleh Rasul Paulus kepada jemaat di Tesalonika (1:1). Pada zaman Paulus kota Tesalonika adalah kota perdagangan dan pelabuhan terkenal di propinsi Makedonia. Orang-orang Romawi memasuki Makedonia pada tahun 168 SM dan tidak lama kemudian Tesalonika menjadi ibukota provinsi Makedonia.

Pertama kali Paulus mengunjungi kota itu adalah pada perjalanan misinya yang kedua. Dia melayani di sana bersama dengan Silas. Di sana sudah ada rumah ibadat Yahudi. Paulus tinggal dan memberitakan Injil di sana beberapa waktu lamanya (Kisah Para Rasul 17:1-9). Hasil dari pelayanan ini ialah banyak orang menjadi percaya (Kisah Para Rasul 17:4). Paulus hanya sempat melayani di sana beberapa minggu, dan pasti iman mereka belum kuat. Paulus dan Silas meninggalkan kota Tesalonika karena timbul keributan di dalam kota itu.

Setelah meninggalkan kota Tesalonika, Paulus menyuruh Timotius ke Tesalonika untuk menanyakan tentang keadaan mereka dan mengukuhkan iman mereka (1 Tesalonika 3:2). Kemudian Timotius kembali kepada Paulus, yang telah pindah ke Korintus (Kis. 18:5). Dia membawa laporan yang sangat menggembirakan (1 Tes. 3:6). Tetapi juga ada beberapa persoalan dalam jemaat, baik tentang hal-hal yang menyangkut zaman akhir maupun hal-hal yang menyangkut etika Kristen.

 

Aplikasi:

Sikap Paulus yang memperhatikan keadaan jemaat yang pernah ia layani seharusnya menjadi teladan bagi kita orang Kristen. Kita harus peka dan peduli terhadap orang-orang yang sudah percaya kepada Yesus Kristus namun iman mereka belum kuat. Kita perlu mengasihi, membimbing, menguatkan, mendoakan dan menjadi berkat bagi mereka, bukan menjadi batu sandungan. Tanggung jawab ini tidak hanya dilakukan oleh pendeta atau hamba-hamba Tuhan tetapi semua orang yang menyebut dirinya Kristen.

 

 

Pasal 1: 2-10

Dalam ayat 2-3, Paulus bersama teman-teman seperjalanannya dalam memberitakan Injil mengucap syukur dan menyebut jemaat Tesalonika dalam doa mereka kepada Allah oleh karena pekerjaan iman, usaha kasih dan ketekunan pengharapan jemaat Tesalonika. Kata “pekerjaan” (ἔργον) berarti pekerjaan, tindakan, perbuatan, perwujudan. Kata “usaha” (κόπος) berarti pelayanan, kerja keras, kelelahan. Kata “ketekunan” (ὑπομονή) berarti daya tahan, keteguhan, kesabaran. Dengan demikian,  iman, kasih dan pengharapan seperti yang dituliskan oleh Rasul Paulus dalam 1 Korintus 13:13 sungguh-sungguh ada dan bertumbuh dalam kehidupan jemaat Tesalonika.

 

Aplikasi:

Alangkah bersukacita dan melimpah dengan syukur hati seorang pembina rohani apabila orang-orang yang ia layani bertumbuh di dalam iman, kasih dan pengharapan kepada Yesus Kristus. Tidak hanya pembina rohani saja, tetapi Tuhan Yesus Kristus yang adalah Tuan dari pembina rohani dan orang yang dilayani pasti senang dan merindukan domba-domba-Nya hidup bertumbuh dalam iman, kasih dan pengharapan kepada-Nya. Sudahkah kita menjadi orang kristen yang menyenangkan hati Tuhan Yesus dalam hal iman, kasih dan pengharapan kita kepada-Nya?

 

 

Dalam ayat 4-5, Paulus menyatakan keyakinannya bahwa Allah telah memilih orang-orang percaya di Tesalonika sebagai umat-Nya. Kalau mereka bisa percaya kepada Yesus Kristus, itu bukan karena kepintaran Rasul Paulus dan teman-teman seperjalannya ketika memberitakan Injil. Rasul Paulus hanya alat Tuhan untuk memberitakan Injil tetapi yang membuat orang-orang Tesalonika menjadi percaya adalah Allah sendiri, yaitu Roh Kudus.

 

Aplikasi:

Sebagai orang kristen, kita harus menyadari bahwa keselamatan itu adalah karya Allah. Kita bisa mengakui Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat kita, bukan karena kehebatan dan kepintaran dari seorang penginjil ataupun kita yang menerima Injil itu, tetapi Allah sendiri, yaitu Roh Kudus yang bekerja sehingga kita mampu mengambil keputusan untuk percaya kepada-Nya. Pemahaman ini akan membuat kita terus-menerus mengucap syukur kepada Allah karena anugerah-Nya dan juga menghindarkan kita dari perasaan sombong di hadapan Allah atau pun manusia karena keselamatan yang telah kita terima.

 

 

Dalam ayat 6-10 Paulus menguraikan beberapa hal sebagai bukti bertumbuhnya iman, kasih dan pengharapan jemaat Tesalonika. Uraian ini memberikan kita pemahaman tentang bagaimana sesungguhnya kehidupan orang Kristen sejati. Oleh karena itu, melalui firman Tuhan ini ada 3 (tiga) ciri yang harus nampak dalam kehidupan orang Kristen sejati, yaitu:

 

1.    Menerima firman Allah dalam segala keadaan (ayat 6)

Dan kamu telah… ; dalam penindasan yang berat kamu telah menerima firman itu dengan sukacita yang dikerjakan oleh Roh Kudus,”

Kata “penindasan” (θλιψει dari kata θλίψις) berarti penganiayaan, tekanan, kesusahan, kesulitan. Paulus mengatakan bahwa dalam penindasan yang berat kamu (jemaat Tesalonika) telah menerima firman Tuhan dengan sukacita yang dikerjakan oleh Roh kudus, bukan tanpa alasan. Pernyataan Paulus ini berhubungan dengan keadaan di Tesalonika di mana ketika Paulus memberitakan Injil di sana telah terjadi keributan yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak percaya (1 Tesalonika 17:1-9). Orang-orang yang percaya kepada Yesus Kristus tidak disenangi dan dibenci. Inilah penganiayaan, tekanan, kesusahan atau kesulitan yang dialami oleh jemaat Tesalonika dalam mengikut Yesus Kristus. Namun, dalam keadaan seperti ini, iman, kasih dan pengharapan jemaat Tesalonika tidak mundur atau kendor. Sebaliknya, mereka mau menerima firman Allah dan bertumbuh dalam iman, kasih dan pengharapan kepada Yesus Kristus. Paulus juga menyatakan bahwa jemaat Tesalonika menerima firman Tuhan dengan sukacita yang dikerjakan oleh Roh Kudus. Artinya, Roh Kudus lah yang memampukan, menguatkan, menghibur jemaat Tesalonika sehingga mereka tetap bertumbuh dalam iman, kasih dan pengharapan sekalipun dalam penindasan.

 

Aplikasi:

Penganiayaan, tekanan, kesusahan atau kesulitan dalam hidup ini sering membuat orang Kristen kecewa dan menyangkal imannya. Ketika mengalami suatu penyakit, kehilangan orang-orang yang dikasihi, kehilangan harta benda, doa atau kerinduannya tidak dikabulkan Tuhan, dihina atau dicaci karena mengikut Kristus, maka banyak orang Kristen yang iman, kasih dan pengharapannya kepada Yesus Kristus menjadi “tumpul”. Namun, yang Tuhan mau dari kita sebagai orang percaya adalah mau menerima firman-Nya dalam segala keadaan, bukan hanya ketika berada dalam suasana senang atau melimpah dengan berkat, namun juga ketika berada dalam masa-masa yang sulit atau teraniaya.

Seorang tokoh dalam Alkitab yang menderita dalam mengikut Tuhan adalah Ayub. Ketika Tuhan mengizinkan Ayub harus kehilangan segala harta benda dan anak-anaknya bahkan dirinya sendiri mengalami penyakit yang sangat parah, ia tetap percaya kepada Allah. Walaupun istrinya menyuruh Ayub untuk menyangkal imannya, namun Ayub sungguh teguh imannya kepada Tuhan dengan mengatakan: “Engkau berbicara seperti perempuan gila! Apakah kita menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk?” (Ayub 2:9-10).

Kita mungkin berpikir bahwa menerima firman Allah dalam segala keadaan adalah suatu hal yang sulit untuk kita lakukan. Memang hal itu pasti terjadi bila kita hanya mengandalkan kekuatan, pikiran atau akal kita sendiri. Namun, bila kita menyadari bahwa kita telah menerima Roh Kudus yang memampukan, menguatkan dan menghibur kita dalam hidup ini, maka percayalah kita tidak mudah kecewa apalagi menyangkal iman. Kita pasti mau menerima firman Allah dalam segala keadaan. Kita pasti bertumbuh dalam iman, kasih dan pengharapan kita kepada Tuhan Yesus Kristus. Karena itu, mari memohon kekuatan dan penghiburan dari Tuhan dalam menjalani hidup kita sebagai orang Kristen. TUHANlah kekuatan kita…!

 

2.    Memiliki kesaksian hidup yang memberkati (ayat 7-8)

Paulus mengatakan bahwa kehidupan jemaat Tesalonika telah menjadi teladan bagi semua orang percaya di Makedonia dan Akhaya (ay. 7). Bahkan bukan hanya menjadi teladan saja, tetapi juga melalui kehidupan jemaat Tesalonika maka di semua tempat firman Tuhan bergema dan iman mereka tersiar (ayat 8). Yang menarik untuk diperhatikan adalah daerah Makedonia dan Akhaya yang disebutkan dalam teks ini. Bila kita perhatikan di peta perjalanan misi Rasul Paulus dalam memberitakan Injil, maka jarak antara Makedonia dan Akhaya begitu jauh. Pada saat itu, kebanyakan penduduk kedua daerah tersebut adalah orang-orang yang menyembah berhala. Iman jemaat Tesalonika tidak hanya bergema di kedua daerah tersebut, tetapi di semua tempat. Di semua tempat di sini menyatakan daerah-daerah di luar daerah Makedonia dan Akhaya.

 

Aplikasi:

Alangkah indahnya kehidupan orang percaya yang menjadi berkat bagi orang lain. Orang Kristen yang kehidupannya sesuai dengan iman Kristen, maka melalui kehidupannya kasih Tuhan dan firman Tuhan bergema di mana-mana. Alangkah indahnya bila diri kita sendiri, keluarga kita sendiri dan jemaat gereja kita sendiri dapat menjadi berkat bagi orang lain, keluarga orang lain, gereja lain dan daerah atau tempat yang lain. Bagaimana dengan kita? Apakah kehidupan kita sendiri, keluarga kita sendiri, gereja kita sendiri sudah menjadi berkat bagi orang lain?

Melalui firman Tuhan ini kita juga bercermin dari kehidupan jemaat Tesalonika bahwa memberitakan Injil itu adalah tanggung jawab semua orang percaya dan didukung oleh kehidupan yang kudus sehingga Injil yang kita beritakan tidak menjadi batu sandungan bagi orang lain. Mungkin Saudara pernah berpikir bagaimana caranya saya memberitakan Injil, sedangkan saya belum belajar theologia, saya tidak ada waktu untuk pergi menginjili di daerah yang lain karena saya bekerja dan sebagainya. Saudara, memberitakan Injil itu dapat kita lakukan di mana pun kita berada, mungkin melalui penyampaian berita Injil secara langsung kepada teman atau kenalan kita, melalui kehidupan kita yang menjadi berkat bagi sesama, atau kita memiliki hati untuk mendukung pekerjaan penginjilan melalui doa atau dana dari kita untuk para hamba Tuhan atau misionaris yang sedang bekerja di ladang Tuhan. Maka tidak ada alasan lagi bagi kita untuk tidak memberitakan Injil.

 

3.  Memiliki pertobatan yang nyata (ayat 9-10)

Ayat 9: “… dan bagaimana kamu berbalik dari berhala-berhala kepada Allah…” Kata “berbalik” (επεστρεψατε dari kata ἐπιστρέφω): berbalik atau kembali. Kata “berbalik” ini penting untuk diperhatikan, di mana Paulus memberikan penekanan yaitu “berbalik dari berhala-berhala kepada Allah”. Pernyataan ini menunjukkan suatu pola atau cara hidup yang jelas berbeda dari sebelumnya. Kalau dulu jemaat Tesalonika menyembah berhala-berhala maka sekarang mereka menyembah dan melayani Allah yang hidup dan yang benar. Mereka juga menaruh pengharapan mereka kepada Tuhan di mana mereka menantikan kedatangan Yesus Kristus, yang menyelamatkan mereka.

Inilah pertobatan yang nyata dalam kehidupan jemaat Tesalonika. Dulu mereka tersesat dan tidak tahu apa-apa, namun sekarang mereka telah kembali kepada Allah yang hidup dan yang benar. Mereka tidak mau lagi menyembah dan melayani berhala-berhala itu, tetapi mereka hanya mau menyembah dan melayani Allah yang hidup dan yang benar sambil menantikan kedatangan Yesus Kristus yang kedua kali.

 

Aplikasi:

Orang Kristen sejati adalah orang yang menyadari dan memahami bahwa dirinya telah kembali kepada Allah yang hidup dan yang benar. Kesadaran dan pemahaman ini akan membuat dia melakukan segala yang  Tuhan mau dalam hidupnya. Ia tidak lagi melakukan segala hal yang dulu ia lakukan sebelum kembali kepada Allah yang hidup dan yang benar. Sebagai contoh: tidak lagi pergi ke dukun atau ke kuburan untuk meminta pertolongan, tidak lagi percaya ramalan-ramalan manusia, tidak lagi bersungut-sungut dalam hidupnya, dan tidak lagi melakukan segala hal yang bertentangan dengan firman Tuhan. Intinya bahwa orang Kristen sejati memiliki pertobatan yang nyata.

 

III.  Kesimpulan

Kita bersyukur kepada Tuhan Yesus Kristus karena banyak orang yang telah mendengar firman-Nya dan menjadi pengikut Kristus di dunia ini, termasuk kita. Maka, jadilah orang Kristen sejati yang mau menerima firman Allah dalam segala keadaan, memiliki kesaksian hidup yang memberkati dan juga pertobatan yang nyata. Dengan demikian, melalui kehidupan kita orang lain dapat mendengar, percaya dan menyaksikan kasih Tuhan yang sungguh teramat besar.
Soli Deo Gloria.

 

By: Iman Zan

4 Comments

4 thoughts on “Kehidupan Orang Kristen Sejati (1 Tesalonika 1:2-10)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s