Minyak Urapan (Suatu Studi Teologis Keluaran 30:22-33)

Oleh: Iman Zandroto

 

DAFTAR ISI

 

Bab I     Pendahuluan

A. Terminologi
B. Latar Belakang Masalah

Bab II   Minyak Urapan (Studi Teologis Keluaran 30:22-33)

A. Bahan Minyak Urapan (ayat 23-25)

B. Kegunaan Minyak Urapan (ayat 26-30)

C. Kekhususan Minyak Urapan (ayat 31-33)

Bab III Pemakaian Minyak Urapan Dalam Perjanjian Lama

Bab IV Relevansi Minyak Urapan Bagi Orang Kristen Masa Kini

Bab V   Kesimpulan

Daftar Pustaka

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

A.      Terminologi

Minyak urapan yang kudus dalam bahasa Ibrani disebut  semen mischat qodesh yang artinya a sacred anointing oil. Kata semen artinya minyak[1], kata mischat artinya pengurapan, bagian yang dikuduskan[2] dan kata qodesh artinya, kesucian, terpisah.[3] Ketetapan mengenai minyak urapan yang kudus dicatat dalam Keluaran 30:22-33. Berdasarkan teks ini, minyak urapan dipakai dalam upacara-upacara di Kemah Suci. Dengan demikian, minyak urapan yang kudus dapat diartikan sebagai minyak yang dipakai untuk mengurapi atau menguduskan alat-alat atau benda-benda kudus di Kemah Suci dan juga para imam, nabi dan raja.

B.       Latar Belakang Masalah

Dalam kehidupan kekristenan sekarang ini, banyak penafsiran terhadap teks Alkitab yang kemudian menghasilkan suatu pengajaran atau doktrin yang diterapkan secara ekstrim di dalam sebuah gereja tertentu. Misalnya, penafsiran terhadap teks Keluaran 30:23-33 tentang minyak urapan yang kudus, telah menjadi pengajaran yang mutlak dan harus diterapkan oleh sekelompok orang kristen atau gereja tertentu. Mereka yang memutlakkan penerapan minyak urapan tersebut telah menarik perhatian banyak orang Kristen, bahkan sebagian orang Kristen menjadi bingung dan mempertanyakan tentang apa, bagaimana dan untuk apa sesungguhnya minyak urapan itu.

Oleh karena itu, untuk menjelaskan tentang apa, bagaimana dan untuk apa minyak urapan yang kudus tersebut, haruslah melakukan studi eksegetis dan teologis terhadap teks yang mencatat tentang minyak urapan yang kudus, yaitu Keluaran 30:23-33. Tentu untuk mencapai pemahaman yang komprehensif perlu diperhatikan juga bagian-bagian lain di dalam Alkitab baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru yang membahas tentang minyak urapan, kemudian merelevansikannya dalam kehidupan orang Kristen masa kini. Harapan penulis, kiranya melalui makalah ini, pembaca atau orang Kristen masa kini dapat memiliki pemahaman yang benar tentang minyak urapan yang kudus.

BAB II

MINYAK URAPAN

(STUDI TEOLOGIS KELUARAN 30:22-33)

A.      Bahan Minyak Urapan (ayat 23-25)

Dalam ayat 23-25 dicatat bahan-bahan pembuatan minyak urapan. Minyak urapan terbuat dari rempah-rempah pilihan (besamim (ros). Kata besamim berasal dari bosem artinya fragrance, spice.[4] Kata ini juga berarti balsam, yaitu suatu jenis pohon yang menghasilkan salep obat yang berbau harum, parfum.[5] Dalam Perjanjian Lama, kata ini terdapat sebanyak 30x. Rempah-rempah ini merupakan salah satu pemberian Ratu Syeba kepada Salomo ketika ia menguji hikmatnya (1 Raj. 10:2,10,25; 2 Taw. 9:1,9,24). Kata ros) berarti baik, permulaan, yang pertama, unggul, kepala.[6] Dengan demikian, rempah-rempah pilihan yang dimaksud dalam ayat 23 ini adalah beberapa jenis tumbuhan yang paling baik dan unggul yang berbau harum.

Beberapa jenis rempah-rempah pilihan untuk membuat minyak urapan yang dicatat dalam teks ini adalah:

  1. Mur tetesan (mar deror) lima ratus syikal (ayat 23). Kata mar berarti mur, kata deror berarti bebas, murni, bersih.[7] Syikal adalah ukuran timbangan sebesar 11,4 gram.
  2. Kayu manis yang harum (wekinamon besem) dua ratus lima puluh syikal (ayat 23). Kayu manis (kinamon) atau cinnamon  merupakan kulit kayu sebelah dalam dari suatu pohon yang sangat berharga pada zaman Alkitab khususnya karena keharumannya dan termasuk dalam daftar wangi-wangian yang sangat mahal (Kid. 4:14).[8]
  3. Tebu yang baik (ukeneh bosem) dua ratus lima puluh syikal (ayat 23). Kata kaneh artinya tebu.
  4. Kayu teja (Qidah)  lima ratus syikal (ayat 24).
  5. Minyak zaitun (wesemen zayit) satu hin (ayat 24). Hin adalah ukuran isi sebesar ± 6 liter.

Mur tetesan, kayu manis yang harum, tebu yang baik dan kayu teja ditimbang menurut syikal kudus (24), yaitu syikal (timbangan) yang utuh, yang disimpan di dalam Kemah Suci (Kel. 30:13).

Berdasarkan teks Keluaran 30:23-24, maka dapat disimpulkan bahwa bahan-bahan yang digunakan dalam membuat minyak urapan adalah rempah-rempah pilihan, yaitu berbagai jenis tumbuhan yang paling baik dan unggul yang berbau harum di mana jenis dan jumlahnya serta timbangannya telah ditentukan oleh Tuhan sendiri.

Dalam ayat 25, dijelaskan bahwa bahan-bahan tersebut harus dibuat menjadi minyak urapan yang kudus, dicampur dengan cermat seperti buatan seorang tukang campur rempah-rempah. Hal ini menunjukkan bahwa minyak urapan tersebut tidak hanya berasal dari rempah-rempah pilihan, yang terbaik dan unggul, tetapi juga cara membuatnya harus dilakukan dengan baik.

 

B.       Kegunaan Minyak Urapan (ayat 26-30)

Dalam ayat 26-30 dijelaskan kegunaan minyak urapan, yaitu untuk mengurapi (umasachta). Kata umasachta dari kata masach berarti menggosok dengan minyak, menyebarkan, mengurapi, mentahbiskan, menguduskan. Kata ini digunakan untuk mengurapi para raja, imam, nabi dan benda-benda kudus.[9] Kata masach secara sederhana berarti melumasi sesuatu pada sebuah objek. Dalam Perjanjian Lama, kata ini menyatakan pengurapan (anointing) dalam hal memisahkan atau mengkhususkan seseorang atau sesuatu untuk suatu tugas atau fungsi tertentu.[10]

Dalam teks ini minyak urapan digunakan untuk mengurapi atau menguduskan:

1.  Alat-alat atau benda-benda kudus (ayat 26-28)

a. Mengurapi Kemah Pertemuan

Kemah Pertemuan adalah suatu bangunan sederhana yang mudah dipindah-pindahkan, yang di dalamnya seorang pelayan dapat melakukan tugasnya.[11]

b. Mengurapi Tabut Hukum

Tabut Hukum disebut juga tabut Tuhan, tabut Allah, tabut perjanjian Tuhan merupakan suatu benda suci yang mudah dibawa dan berpenutup dengan emas. Tabut hukum berbentuk agak persegi panjang dibuat dari kayu penaga, ukurannya 1,3x1x1 m. Kegunaannya adalah sebagai tempat menyimpan kedua Loh Hukum-Dasa Titah (Kel. 25:16, 21), buli-buli berisi manna dan tongkat Harun (Ibr. 9:4-5) dan juga sebagai sarana pertemuan di dalam tempat kudus dari mana Tuhan menyatakan kehendak-Nya kepada pelayan-Nya (Musa, Kel. 25:22; Harun, Im. 16:2; Yosua, Yos. 7:6).[12]

c. Meja dengan segala perkakasnya

d. Kandil dengan perkakasnya

e. Mezbah pembakaran ukupan

f. Mezbah korban bakaran  dengan segala perkakasnya

g. Bejana pembasuhan dengan alasnya

2.     Harun dan anak-anaknya (ayat 30)

Harun adalah saudara laki-laki Musa dan Miryam, berasal dari suku Lewi. Dalam ayat ini, Tuhan menyuruh Musa untuk mengurapi Harun dan anak-anaknya supaya mereka memegang jabatan imam bagi Tuhan. Memegang jabatan imam (lekahen) artinya bertindak sebagai imam, melayani sebagai imam, menjadi imam.[13]

C.      Kekhususan Minyak Urapan (ayat 31-33)

Dalam ayat 31-33, Tuhan menegaskan kekhususan minyak urapan, yaitu:

1.      Minyak Urapan adalah Ketetapan Tuhan (ayat 31)

Minyak urapan yang kudus ditetapkan oleh Tuhan sendiri di antara Dia dengan umat Israel secara turun-temurun, baik bahan-bahannya maupun kegunaannya. Ini menunjukkan bahwa minyak urapan yang kudus merupakan suatu ketetapan Tuhan untuk dilaksanakan oleh umat-Nya Israel.

2.      Tidak dipergunakan untuk mengurapi orang biasa/awam (ayat 32-33)

Minyak urapan tidak boleh dipergunakan untuk mengurapi orang biasa/awam (zar).  Kata zar artinya orang asing atau orang yang tidak dikenal.[14] Minyak urapan dipergunakan khusus untuk alat-alat atau benda-benda kudus dan untuk para imam, raja dan nabi.

3.      Minyak urapan tidak boleh dibuat dari campuran yang sama (ayat 32-33).

Dalam membuat minyak urapan maka rempah-rempah yang akan dibuat menjadi minyak urapan tidak boleh dicampur dengan campuran yang telah dipakai untuk membuat minyak urapan lainnya.

4.      Akibat dari penyalahgunaan minyak urapan (ayat 33)

Orang yang mencampur rempah-rempah menjadi minyak dengan campuran yang sama atau yang membubuhkannya pada badan orang awam, haruslah dilenyapkan dari antara bangsanya. Istilah dilenyapkan wenikrat dari kata karat artinya melenyapkan, menghancurkan, memotong, mengakhiri.[15] Kata ini ditulis dalam bentuk verb niph.waw.cons.perf.3.m.s. yang menunjukkan bahwa setiap orang yang melanggar ketetapan minyak urapan yang kudus, maka ia akan dilenyapkan, dihancurkan atau dipotong dari antara bangsanya.

 

 

BAB III

PEMAKAIAN MINYAK URAPAN

DALAM PERJANJIAN LAMA

 

Dalam Perjanjian Lama, minyak urapan dipakai untuk mengurapi orang atau benda untuk menandakan kesuciannya atau pengkhususannya bagi Allah.[16] Pengurapan juga melambangkan perlengkapan untuk pelayanan dan dihubungkan dengan pencurahan Roh Allah (1 Sam. 10:1,9; Yes. 61:1). Karena itu, pada dasarnya, pengurapan adalah tindakan Allah untuk memperlengkapi seseorang atau benda untuk suatu tugas tertentu.

Pemakaian minyak urapan dalam Perjanjian Lama adalah sebagai berikut:

  1. Dipakai dalam upacara-upacara di Kemah Suci (Kel. 30:26-28), yaitu mengurapi Kemah Pertemuan, Tabut Hukum, meja dengan segala perkakasnya, kandil dengan perkakasnya, mezbah pembakaran ukupan, mezbah korban bakaran dengan segala perkakasnya, bejana pembasuhan dengan alasnya.
  2. Dipakai untuk mengurapi para imam (Kel. 30:30), yaitu Harun dan keturunannya
  3. Dipakai apabila raja baru dinobatkan memangku jabatannya. Contoh: Samuel meminyaki Saul (1 Samuel 10:1), Elisa meminyaki kaki Yehu (2 Raj. 9:3), dan Yohyada meminyaki Yoas (2 Raj. 11:12).
  4. Dipakai untuk mengurapi nabi (1 Raj. 19:16), Tuhan menyuruh Elia untuk mengurapi Elisa menjadi nabi.

 

 

BAB IV

RELEVANSI MINYAK URAPAN

DALAM KEHIDUPAN ORANG KRISTEN MASA KINI

 

Pengurapan terhadap alat-alat atau benda-benda di dalam kemah suci, para imam, para raja, para nabi di zaman Perjanjian Lama melambangkan pengudusan atau pengkhususan suatu benda atau seseorang bagi Allah. Selain itu, pengurapan tersebut juga melambangkan perlengkapan untuk pelayanan, dan dihubungkan dengan pencurahan Roh Allah (1 Sam. 10:1,9; Yes. 61:1).

Dengan memahami makna pemakaian minyak urapan dalam Perjanjian Lama, maka penulis menyatakan bahwa pemakaian minyak urapan seperti yang dituntut dalam Perjanjian Lama, tidak perlu atau tidak boleh lagi diterapkan bagi orang Kristen masa kini. Karena orang percaya kepada Yesus Kristus telah dipilih, dipanggil, dikuduskan, dikhususkan, diurapi dan diperlengkapi oleh Roh Kudus (Kis. 10:38; 1 Yohanes 2:20,27). Dalam Yakobus 5:14 disebutkan pemakaian minyak untuk mengurapi orang sakit. Teks ini tidak boleh diartikan sebagai perintah untuk mengurapi dengan minyak urapan seperti dalam Perjanjian Lama, tetapi harus dimengerti bahwa hal ini menunjuk kepada Roh Kudus, Pemberi kehidupan.

Namun demikian, orang Kristen harus memahami prinsip penting dari minyak urapan dalam Perjanjian Lama, yaitu bahwa melalui minyak urapan, Allah menunjukkan bahwa Dia sendirilah yang bertindak atau berinisiatif untuk menguduskan, mengkhususkan, mencurahkan Roh Kudus untuk memperlengkapi hamba yang dipilih-Nya. Prinsip ini sangat relevan dalam kehidupan orang percaya saat ini di mana Allah sendiri yang memilih seseorang, mengkhususkan, menyelamatkan, mencurahkan Roh Kudus untuk memperlengkapi orang yang dipilih-Nya. Maka, selayaknyalah orang percaya senantiasa bersyukur dan taat kepada Allah.

BAB V

KESIMPULAN

Dalam Perjanjian Lama, minyak urapan adalah minyak yang dipakai untuk pengurapan alat-alat atau benda-benda, para imam, raja serta nabi. Pengurapan melambangkan perlengkapan, pengudusan, pengkhususan suatu benda atau seseorang bagi Allah, dan dihubungkan dengan pencurahan Roh Kudus. Orang Kristen pada masa kini tidak lagi dituntut untuk menerapkan minyak urapan karena Allah sendiri telah memilih, menguduskan, mengkhususkan dan memberi Roh Kudus dalam hati orang percaya untuk mengurapi, menguatkan dan memperlengkapinya. Orang kristen atau denominasi gereja tertentu yang memutlakkan penerapan minyak urapan bagi jemaat, maka hal itu tidaklah benar.

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

_________________,

2009                Alkitab. Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia

Brill, E. J.,

1978                A Concise Hebrew and Aramic Lexicon of the Old Testament. Grand Rapids, Michigan: William B. Eerdmans Publishing Company

Brown, Francis,

1906                A Hebrew and English Lexicon of  the Old Testament. Walton Street, Oxford: Oxford University Press

Browning, W. R. F.,

2008                Kamus Alkitab. Jakarta: PT BPK Gunung Mulia

Douglas, J. D.,

2008                Ensiklopedi Alkitab Masa Kini Jilid 2. Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih

Harris, R. Laird, Archer, Gleason L., Waltke, Bruce K.,

1980                Theological Wordbook of the Old Testament. Chicago: Moody Press

Strong, James,

1984                Strongs Exhaustive Concordance. Grand Rapids, Michigan: Baker Book House

Unger, Merril F., White, William,

1798                Nelson’s Expository of The Old Testament. Nashville: Thomas Nelson Publishers

Vangemeren, Williem A.,

1970                New International Dictionary of Old Testament Theology & Exegesis, Volume 3. Grand Rapids, Michigan: Zondervan Publishing House

Wilson, William,

1994                Wilson’s Old Testament Word Studies. Peabody, Massachusetts: Hendrickson Publishers


[1] R. Laird Harris, Gleason L. Archer, Bruce K. Waltke, Theological Wordbook of the Old Testament. Chicago: Moody Press, 1980, p.937

[2] James Strong, Strongs Exhaustive Concordance. Grand Rapids, Michigan: Baker Book House, 1984, p.73

[3] R. Laird Harris, .., Theological Wordbook …, p.786

[4] James Strong, Strongs…, p.24

[5] E. J. Brill, A Concise Hebrew and Aramic Lexicon of the Old Testament. Grand Rapids, Michigan: William B. Eerdmans Publishing Company, 1978, p. 50

[6] James Strong, Strongs…, p. 106

[7] Ibid…, p. 31

[8] Williem A. Vangemeren, New International Dictionary of Old Testament Theology & Exegesis, Volume 3. Grand Rapids, Michigan: Zondervan Publishing House, 1970, p. 747

[9] William Wilson, Wilson’s Old Testament Word Studies. Peabody, Massachusetts: Hendrickson Publishers, 1994, p.14

[10] Merril F. Unger, William White, Nelson’s Expository of The Old Testament. Nashville: Thomas Nelson Publishers, 1798, p.204

[11] W. R. F. Browning, Kamus Alkitab. Jakarta: PT BPK Gunung Mulia, 2008, h.431

[12] J. D. Douglas, Ensiklopedi Alkitab Masa Kini Jilid 2. Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih, 2008, h.434

[13] Francis Brown, A Hebrew and English Lexicon of  the Old Testament. Walton Street, Oxford: Oxford University Press, 1906, p.464

[14] James Strong, Strongs…, p.34

[15] R. Laird Harris, .., Theological Wordbook …, p.1043

[16] Ibid…, p.531

2 Comments

2 thoughts on “Minyak Urapan (Suatu Studi Teologis Keluaran 30:22-33)

    • Berdasarkan pembahasan teologis di atas, maka setiap orang dapat menilai apakah fenomena minyak urapan masa kini benar atau tidak, alkitabiah atau tidak… Thanks

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s